Jakarta – Dian Sovana, perempuan asal Luak Limopuluah, menerima penghargaan Kategori Kartini Infrastruktur Nasional 2026 pada ajang Anugerah Kartini Infrastruktur 2026 di salah satu hotel di Jakarta Selatan, Rabu (22/4/2026).
Penghargaan itu diberikan kepada sosok perempuan yang dinilai memiliki kontribusi nyata bagi pembangunan infrastruktur nasional. Dian terpilih karena dinilai berperan strategis dalam memperkuat tata kelola perusahaan dan komunikasi korporasi melalui jabatannya sebagai Corporate Secretary di PT Brantas Abipraya (Persero).
Peran tersebut juga disebut ikut mendorong transparansi, memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan, serta menjaga keberlanjutan kinerja perusahaan.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti mengatakan penghargaan itu menjadi pengingat pentingnya peran strategis perempuan di sektor infrastruktur. Ia juga mengapresiasi konsistensi media dalam mengangkat isu pembangunan nasional.
“Penghargaan ini menjadi pengingat betapa pentingnya peran strategis perempuan di sektor infrastruktur,” ujar Diana.
Direktur Lintas Media Infrastruktur Paul Ames Halomoan Siahaan menyebut capaian edisi ke-100 menjadi simbol ketekunan dan kepercayaan yang terus terjaga. Menurut dia, momentum ini juga menjadi ajang untuk memberi apresiasi kepada perempuan yang berdampak nyata bagi pembangunan.
Tahun ini, penghargaan diberikan melalui proses seleksi ketat dari lebih dari 150 kandidat. Sebanyak 25 finalis kemudian dipilih setelah menjalani penilaian komprehensif dan wawancara oleh dewan juri lintas bidang.
Selain Dian, Rina Kumala Sari juga menerima penghargaan pada kategori daerah. Ia dinilai berperan penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan pembangunan jalan nasional di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Ajang tersebut menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan fisik bangunan, tetapi juga dengan sumber daya manusia di baliknya. Perempuan, dalam hal ini, dinilai memiliki kontribusi penting dalam perencanaan maupun pelaksanaan di lapangan.
Penghargaan ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan berkembang menjadi gerakan yang mendorong kesetaraan peran dan pengakuan atas kontribusi perempuan dalam pembangunan Indonesia.







