Pekanbaru – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto menilai turunnya harga minyak dunia membuka ruang bagi pemulihan sektor energi nasional sekaligus meredakan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Ia mengatakan stabilnya situasi di Selat Hormuz juga ikut memberi sinyal positif bagi pasar energi global dan berpotensi berdampak ke dalam negeri.
“Dengan perkembangan di Selat Hormuz, tentunya kita harapkan bisa segera ada dampaknya kepada energi nasional. Kita lihat harga minyak juga sudah menurun, itu berita yang baik,” ujar Adisatrya saat kunjungan kerja di Pekanbaru, Riau, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan, meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga minyak dunia turun. Sebelumnya, harga komoditas energi itu sempat melonjak akibat ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak tersebut sempat memengaruhi harga bahan bakar non-subsidi di dalam negeri. Karena itu, Adisatrya berharap hubungan diplomatik antarnegara terus membaik agar stabilitas harga energi dapat terjaga dalam jangka panjang.
Menurut dia, kondisi global yang lebih kondusif sangat dibutuhkan untuk membantu meringankan beban ekonomi domestik.
Di sisi lain, Adisatrya menegaskan pemerintah tetap perlu menggenjot lifting atau produksi minyak nasional meski harga minyak dunia sedang menurun. Ia menilai kombinasi harga global yang lebih stabil dan peningkatan produksi dalam negeri akan memperkuat fondasi fiskal negara di tengah tekanan eksternal.
“Dengan turunnya harga minyak dan lifting yang bisa tercapai bagus, mudah-mudahan ini bisa membantu fiskal kita yang sekarang kita ketahui bersama banyak tekanan karena faktor-faktor luar,” tambahnya.
Ke depan, ia mendorong pemerintah terus meningkatkan produksi minyak dalam negeri sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika pasar global yang sulit diprediksi.







