Padang – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Sumatera Barat menutup 2025 dengan catatan positif: inflasi terkendali meski sempat naik akibat bencana dan kemarau, percepatan digitalisasi pembayaran melalui QRIS, serta dukungan kuat terhadap UMKM, ekspor kecil, dan pemulihan pascabencana. Kepala KPwBI Sumbar mengatakan langkah-langkah ini dijalankan sinergis bersama pemerintah daerah, perbankan, dan pemangku kepentingan lain untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah.
KPwBI Sumbar menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas. “Alun takilek alah takalam, nan jauah ditinjau, nan dakek ditaruko,” ujar Kepala KPwBI Sumbar, menegaskan pendekatan antisipatif terhadap potensi gejolak harga. BI memantau harga harian, mengidentifikasi risiko, dan berkoordinasi dengan TPID serta pemerintah daerah. Hingga Agustus inflasi berada dalam sasaran 2,5±1%, namun tekanan akibat kemarau panjang dan bencana hidrometeorologi membuat inflasi November tercatat 3,98%. Untuk meredam tekanan harga, BI bersama pemda memperkuat Gerakan Pangan Murah, kerja sama antar daerah seperti Jawa Tengah, dan memfasilitasi distribusi ke wilayah dengan biaya logistik tinggi.
Transformasi digital sistem pembayaran menjadi capaian signifikan. Kepala KPwBI Sumbar menyebut jumlah merchant QRIS meningkat dari 561.917 menjadi 674.273 (bertambah 112.356), sementara pengguna naik menjadi 949.441. Volume transaksi kumulatif tercatat Rp51,93 miliar atau 130,23% dari target. “Saciok bak ayam, sadanciang bak basi,” kata Kepala KPwBI Sumbar menggambarkan kolaborasi BI, pemda, perbankan, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pembayaran yang efisien. BI juga memperluas QRIS Cross Border di kota-kota wisata seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Sawahlunto; transaksi wisatawan tercatat dari Thailand, Singapura, dan Malaysia, dengan Malaysia menyumbang 58.617 transaksi senilai Rp22,67 miliar.
Prestasi daerah menjadi bukti sinergi antarpemangku kepentingan. Payakumbuh terpilih sebagai kota terbaik regional Sumatera pada Championship TP2DD 2025 atas percepatan digitalisasi transaksi dan transparansi layanan publik. Kabupaten Tanah Datar kembali meraih TPID Berprestasi Terbaik se-Sumatera untuk kelima kali berturut-turut meski menghadapi banjir bandang. Di bidang pariwisata, Nagari Koto Gadang meraih Juara II Nasional kategori Desa Wisata Berbasis Budaya pada Wonderful Indonesia Awards 2025, dan Gubernur Mahyeldi menerima Anugerah Adinata Syariah 2025 atas komitmen pengembangan ekonomi syariah provinsi.
Dukungan terhadap UMKM dan peningkatan produktivitas pertanian berjalan paralel. Program Onboarding UMKM Go Digital dan Go Ekspor membina 99 UMKM dalam digitalisasi dan memfasilitasi 50 UMKM go ekspor. Contoh ekspor antara lain kopi Solok Radjo ke Taichung senilai USD 11.310 dan kayu manis Spices Indo ke Thailand senilai USD 86.029,75. Beberapa business matching menghasilkan MoU dan LoI dengan nilai ratusan ribu hingga jutaan dolar. Sekolah Lapang DAUN meningkatkan produktivitas pertanian lewat metode organik MTOT dan digital farming: produktivitas naik lebih dari 50%, efisiensi tenaga kerja meningkat 30%, dan penggunaan pestisida berkurang. Ir. Djoni dari Yayasan Dangau Inspirasi terlibat sebagai narasumber dalam pendampingan teknik dan kelembagaan petani.
Pengelolaan peredaran uang rupiah juga mendapat perhatian. Melalui unit PUR, BI menerapkan Clean Money Policy dan program Rupiah Segeh Salingka Nagari dengan layanan kas keliling di 19 kabupaten/kota, termasuk wilayah 3T. Kas Titipan Sungai Penuh berfungsi sebagai nodal distribusi strategis, dan Agen Pemberantasan Uang Palsu (APUP) aktif memberi edukasi 3D serta layanan klarifikasi, sekaligus memastikan kualitas rupiah dan inklusivitas layanan kas di daerah.
KPwBI Sumbar juga berperan sebagai mitra advisory dengan menyajikan Laporan Perekonomian Provinsi triwulanan dan menyelenggarakan Sarasehan Ekonomi Sumatera Barat pada 25 Juli 2025 yang dihadiri wakil gubernur, pimpinan daerah, kepala perbankan daerah, akademisi, dan asosiasi. Forum ini menjadi ruang pemaparan potensi investasi daerah dan rekomendasi kebijakan berbasis data untuk mendukung pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.
Pengembangan ekonomi syariah berlanjut melalui percepatan sertifikasi halal, akses pembiayaan syariah, pengembangan industri kreatif halal, dan digitalisasi wakaf. Peluncuran Zona Kuliner Aman Halal dan Sehat di Universitas Andalas menghasilkan 12 UMKM tersertifikasi halal, dan program wakaf digital Satu Wakaf menggalang lebih dari Rp100 juta untuk wakaf produktif bersama Pondok Pesantren Ar‑Risalah.
Dalam respons sosial pascabencana banjir galodo, keluarga besar BI Sumbar bersama IPEBI, PIPEBI, dan mitra menyalurkan bantuan pangan, imun kit, selimut, dan kebutuhan darurat melalui posko terdampak, bekerja sama dengan PMI, BPBD, dan lembaga kemanusiaan lain. Kepala KPwBI Sumbar menyerahkan Bantuan Peduli Bencana kepada PMI untuk mendukung distribusi cepat. Di bidang pendidikan, program Beasiswa Generasi Baru Indonesia (GenBI) mendukung 350 mahasiswa pada semester I dan 181 mahasiswa pada semester II di delapan perguruan tinggi Sumbar, disertai pelatihan kepemimpinan dan kapasitas.
Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCF) 2025 pada 12–14 September menjadi momentum penguatan UMKM hijau dan kreatif: SCF mencatat transaksi Rp1,87 miliar (naik 842% dibanding tahun sebelumnya), LoI ekspor senilai USD 831.378 untuk tujuh UMKM, serta komitmen pembiayaan total Rp5,78 miliar yang mencakup pembiayaan syariah dan konvensional. Kepala KPwBI Sumbar menegaskan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci mendorong UMKM naik kelas dan memperluas pasar.
Secara keseluruhan, KPwBI Sumbar menilai kombinasi pengendalian inflasi, percepatan digitalisasi, penguatan UMKM dan ekonomi syariah, serta respons kemanusiaan menunjukkan arah kebijakan terintegrasi untuk menjaga napas ekonomi Ranah Minang pada akhir 2025.







