Dharmasraya – Prof. Pramono, seorang akademisi dari Universitas Andalas (UNAND), menerima Penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka 2025 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) atas dedikasinya dalam melestarikan naskah kuno. Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung dalam Festival Literasi Perpusnas 2025 di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Perpusnas RI memberikan penghargaan kepada Prof. Pramono dalam kategori Pelestarian Naskah Kuno (Pegiat Naskah Kuno Perorangan 2025) setelah melalui proses verifikasi dan seleksi yang ketat. Dedikasi panjangnya dalam menjaga khazanah naskah kuno Nusantara, khususnya Minangkabau, menjadi alasan utama pemberian penghargaan ini.
“Terima kasih kepada Perpustakaan Nasional RI atas Penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka 2025 – Kategori Pelestarian Naskah Kuno. Penghargaan ini saya maknai bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan pengakuan atas kerja kolektif banyak pihak yang telah berjuang menjaga dan menghidupkan khazanah naskah kuno di Sumatera Barat. Semoga tiap lembar yang kita jaga bermanfaat bagi khalayak luas,” ujar Pramono.
Selama lebih dari dua dekade, Prof. Pramono telah menjelajahi berbagai surau dan rumah gadang untuk menginventarisasi dan mendigitalisasi lebih dari 1.200 naskah kuno yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera Barat hingga Buton. Hasil digitalisasi ini dapat diakses publik melalui Minangkabau Corner Perpustakaan Universitas Andalas.
Selain itu, Pramono juga menggagas komunitas Surau Intellectual for Conservation (SURI) yang memadukan pelestarian budaya dengan pemberdayaan sosial, termasuk pelatihan membatik motif iluminasi naskah kuno bagi difabel rungu. Kiprahnya juga melibatkan kerja sama internasional dengan berbagai lembaga ternama.
Pramono aktif menulis dan menjadi advokat kebudayaan, termasuk menjadi Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Sumatera Barat sejak 2021 dan menggagas pengusulan Naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol ke Memory of the World Asia-Pacific. Sebelumnya, ia juga telah menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya dalam pelestarian budaya.
“Pelestarian naskah kuno bukan hanya soal menyelamatkan teks, tapi tentang menghidupkan kembali nilai dan pengetahuan di dalamnya untuk masa kini,” pungkas Pramono.







