Inflasi Sumbar Melandai Cabai Merah Dongkrak Harga Bulanan

cabai-merah-hingga-beras-picu-inflasi-bulanan-sumbar,-bi:-stok-sentra-pangan-masih-aman
Cabai Merah hingga Beras Picu Inflasi Bulanan Sumbar, BI: Stok Sentra Pangan Masih Aman

Padang – Inflasi tahunan Sumatera Barat pada September 2026 tercatat melandai dan masih berada dalam sasaran nasional. Namun, tekanan harga bulanan di daerah itu justru meningkat, dipicu terutama oleh naiknya harga cabai merah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Sumbar pada September 2026 berada di level 3,50 persen secara year-on-year (yoy). Angka itu turun dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 3,76 persen yoy.

Baca Juga

Secara kumulatif, inflasi Januari-September 2026 juga masih terkendali di level 1,83 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram, mengatakan perlambatan inflasi tahunan ditopang deflasi pada sejumlah komoditas pangan utama.

“Secara tahunan, cabai merah memberikan andil deflasi sebesar -0,23 persen, bawang merah -0,16 persen, dan telur ayam ras -0,03 persen,” ujar Abdul Majid dalam keterangan pers, Jumat (2/10/2026).

Meski begitu, penurunan inflasi tahunan yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga beberapa komoditas lain. Daging ayam ras memberikan andil inflasi 0,31 persen, emas perhiasan 0,30 persen, dan beras 0,23 persen.

Naiknya harga daging ayam terutama dipicu lonjakan biaya pakan ternak. Sementara itu, harga beras terdorong oleh turunnya produksi akibat kerusakan lahan sawah pascabencana dan terbatasnya pasokan dari luar daerah.

Di sisi lain, inflasi bulanan Sumbar pada September 2026 tercatat 0,60 persen month-to-month (mtm), naik dari 0,18 persen pada Agustus. Kenaikan ini terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,47 persen mtm.

“Kenaikan harga cabai merah disebabkan oleh tingginya pengiriman ke luar Sumbar di tengah penurunan produksi nasional, berkurangnya pasokan dari daerah yang terdampak erupsi dan karhutla, serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di beberapa sentra produksi,” kata Abdul Majid.

Selain cabai merah, kenaikan harga bulanan juga dipengaruhi daging ayam ras, beras, cabai hijau, dan ikan cakalang, yang masing-masing menyumbang andil 0,03 persen mtm.

Tekanan inflasi bulanan itu tertahan oleh turunnya harga sejumlah komoditas lain, seperti cabai rawit, tarif angkutan udara, emas perhiasan, jengkol, dan kentang. Pasokan cabai rawit disebut melimpah seiring meluasnya area tanam, sedangkan tarif penerbangan turun setelah periode liburan.

Pemantauan spasial menunjukkan seluruh kabupaten dan kota sampel Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumbar mengalami inflasi pada September 2026. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,11 persen, disusul Dharmasraya 1,03 persen, Kota Bukittinggi 0,98 persen, dan Kota Padang 0,33 persen.

Untuk inflasi tahunan, Dharmasraya mencatat angka tertinggi yakni 4,42 persen. Berikutnya Pasaman Barat 3,56 persen, Bukittinggi 3,43 persen, dan Padang 3,33 persen.

Menanggapi kenaikan harga pangan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sumatera Barat bersama BI dan BULOG memperkuat Gerakan Pangan Murah (GPM) serta operasi pasar secara terukur dengan prinsip 5 tepat: waktu, lokasi, komoditas, jumlah, dan sasaran.

Kerja sama antar daerah (KAD) serta business matching antara petani, pengumpul atau off-taker, dan penyedia logistik juga diperkuat untuk memperlancar rantai pasok.

“Pemantauan TPID di lapangan menunjukkan stok cabai merah di sentra produksi seperti Alahan Panjang, Kabupaten Solok, saat ini memadai. Masuknya pasokan cabai merah dari Jawa Tengah juga menambah ketersediaan di pasar sehingga dapat meredam tekanan harga,” kata Abdul Majid.

Bank Indonesia memperkirakan inflasi Sumatera Barat hingga akhir tahun masih berada dalam kisaran sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen. Namun, seluruh pihak diminta tetap waspada terhadap risiko cuaca ekstrem, fluktuasi harga energi global, hambatan distribusi, dan dampak pergerakan nilai tukar rupiah terhadap biaya produksi pangan.

Rekomendasi