Talang Anau – Di tengah modernisasi, tradisi mantra sebagai warisan kearifan lokal tetap lestari di Nagari Talang Anau, Sumatera Barat. Masyarakat setempat meyakini mantra sebagai doa dan sarana penyembuhan yang ampuh.
Lastry Monika, Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand, menjelaskan bahwa mantra lebih dari sekadar ucapan magis. “Mantra adalah bentuk pengetahuan tradisional yang berfungsi ganda: sebagai sarana penyembuhan sekaligus simbol spiritualitas masyarakat,” ujarnya secara langsung.
Masyarakat Talang Anau memaknai mantra sebagai doa yang mengandung harapan mendalam. Mereka percaya kekuatan kata-kata dalam mantra mampu menetralkan bahaya, mendatangkan keselamatan, bahkan menolak marabahaya.
Lastry mencontohkan pengalamannya saat kecil, “Alih-alih segera diberi obat medis, nenek atau ibu saya berkata, ‘Itu karena sapo-sapoan’,” kenangnya. Istilah “sapo-sapoan” merujuk pada sakit yang dipercaya timbul akibat ditegur oleh roh leluhur. Neneknya menggunakan kunyit atau bawang merah sambil merapalkan doa untuk mengusir roh leluhur penyebab penyakit.
Selain untuk mengobati penyakit, mantra juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Nenek Lastry akan merapalkan doa dan menggesekkan mata pisau pada kulit yang tersengat tabuhan atau kerawai.
Tradisi mantra ini, menurut Lastry, memperlihatkan bagaimana masyarakat Talang Anau menjaga keseimbangan hidup melalui harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Mantra menjadi penanda cara pandang tersendiri dalam menghadapi kehidupan.







