Prof Hardisman Ingatkan Polusi Udara Ancam Jantung Otak

guru-besar-unand-prof.-hardisman-ungkap-risiko-polusi-udara-bagi-kesehatan,-kelompok-rentan-perlu-waspada
Guru Besar UNAND Prof. Hardisman Ungkap Risiko Polusi Udara bagi Kesehatan, Kelompok Rentan Perlu Waspada

Padang – Polusi udara tidak hanya mengganggu saluran pernapasan, tetapi juga berpotensi berdampak pada pembuluh darah, jantung, hingga otak. Risiko ini dinilai lebih besar bagi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang lebih rentan terhadap paparan udara tercemar.

Guru Besar bidang Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. dr. Hardisman, M.HID., Dr.PH., FRSPH., menjelaskan tubuh sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan saat zat asing masuk melalui saluran napas. Respons awal yang muncul umumnya berupa iritasi, yang ditandai dengan batuk.

Baca Juga

“Kalau paparannya terus-menerus, keluhan bisa menetap meski seseorang sudah menjauh dari sumber pencemaran,” kata Prof. Hardisman, dikutip dari laman unand.ac.id, Kamis (8/10/2026).

Ia mengatakan, jika zat berbahaya masuk lebih dalam ke saluran pernapasan, dampaknya bisa berkembang menjadi sesak napas. Pada penderita asma dan PPOK, polusi udara tidak hanya memperparah keluhan, tetapi juga meningkatkan risiko serangan yang lebih berat.

Dampak polusi udara tidak berhenti di paru-paru. Menurut Hardisman, polutan juga dapat memengaruhi organ lain melalui gangguan pada pembuluh darah. Paparan tersebut bisa memicu proses fisiologis dan patofisiologis yang berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah dan pembentukan plak, sehingga berisiko terhadap kesehatan jantung dan otak.

Ia menegaskan, besar kecilnya risiko tidak hanya ditentukan oleh lamanya paparan. Konsentrasi, jenis zat pencemar, dan kondisi kesehatan seseorang juga ikut menentukan seberapa besar dampaknya terhadap tubuh.

Komposisi polutan pun berbeda-beda tergantung sumber pencemar. Asap dari industri, kebakaran rumah, maupun kebakaran hutan dapat mengandung zat yang tak sama, bergantung pada material yang terbakar dan sempurna atau tidaknya proses pembakaran.

Prof. Hardisman menuturkan, pembakaran yang tidak sempurna dapat menghasilkan karbon monoksida (CO). Zat ini mengganggu kemampuan hemoglobin membawa oksigen, sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh bisa terhambat. Sementara itu, paparan jangka panjang terhadap zat hasil pembakaran yang bersifat karsinogen dapat meningkatkan risiko kanker.

Untuk menekan risiko, ia menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Meski berada di dalam rumah, masyarakat tetap perlu memperhatikan kualitas udara dalam ruangan karena polutan dari luar masih bisa masuk.

Jika aktivitas luar ruangan tidak bisa dihindari, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi seperti N95 dinilai dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, terutama PM2.5.

Hardisman juga mengingatkan masyarakat agar peka terhadap gejala saat terpapar udara buruk. Sesak napas, batuk berat, dan pusing perlu segera direspons dengan menjauh dari sumber pencemaran dan berpindah ke lokasi dengan kualitas udara lebih baik.

Jika gangguan pernapasan semakin berat, masyarakat diminta segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Menurutnya, berpindah ke tempat yang udaranya lebih segar tidak selalu cukup bila paparan sudah mengganggu pernapasan dan pemenuhan oksigen tubuh.

“Perlindungan dari polusi udara perlu mendapat perhatian lebih besar pada kelompok rentan, termasuk penderita asma dan PPOK. Mengenali risiko, mengurangi paparan, dan segera mencari pertolongan ketika keluhan memburuk menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan di tengah kualitas udara yang menurun,” ujarnya.

Rekomendasi