Ramalan Digital: Algoritma Memahami, Kita Terjebak?

pesan-yang-tak-pernah-usai
Pesan yang Tak Pernah Usai

Jakarta – Kolumnis Salman Herbowo menyoroti evolusi ramalan dari dunia nyata ke ranah digital yang lebih personal melalui media sosial. Transformasi ini menjadi fokus utama dalam tulisan terbarunya.

Salman Herbowo, kolumnis rubrik Renyah, mengungkapkan ketertarikannya pada fenomena ramalan yang kini hadir dalam bentuk video singkat di berbagai platform media sosial. Dalam tulisannya pada Minggu (29/6/2025), Salman mengenang masa remajanya yang lekat dengan praktik ramalan tradisional. Pengalaman itu membawanya pada refleksi bahwa kepercayaan terhadap hal-hal metafisik terus berlanjut hingga kini. Ia melanjutkan kisah tersebut dalam edisi “Renyah” kali ini, dengan fokus pada ramalan digital yang terasa lebih dekat dan halus.

Bacaan Lainnya

Salman menulis dalam kolomnya, “Sekarang, caranya tak membaca garis tangan atau cara lainnya. Tapi entah kenapa, masih saja tertarik ketika melihat video tentang ramalan muncul di linimasa media sosial.” Ia mengakui bahwa algoritma media sosial berperan dalam menampilkan konten tersebut, namun ia tetap menyaksikannya hingga selesai. “Suaranya lembut, nadanya pelan, lalu muncul tulisan, ‘Kalau video ini sampai ke kamu, berarti pesan ini untukmu.’ Saya tahu itu algoritma. Tapi tetap saja, saya menontonnya sampai habis,” imbuhnya.

Salman menjelaskan bahwa ramalan tidak menghilang, melainkan bertransformasi. Dahulu, ramalan hadir melalui SMS berbayar, kini beralih ke platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts. Istilah yang digunakan pun mengalami perubahan, dari zodiak menjadi “energi semesta”, “vibrasi positif”, atau “manifeskan keinginanmu”.

Menurut Salman, konten ramalan digital dikemas secara menarik dan relevan dengan perkembangan zaman, seolah-olah dirancang khusus untuk setiap individu. Padahal, konten tersebut ditonton oleh ribuan bahkan jutaan orang. “Yang berubah hanya tampilannya, yang dulu lewat pesan teks, sekarang lewat visual dan suara yang menenangkan,” jelasnya pada Minggu (29/6/2025).

Lebih lanjut, Salman menyoroti perbedaan antara ramalan konvensional dan digital. Jika dulu pulsa yang terkuras, kini pulsa dan waktu yang terserap. “Diam-diam kita juga menyerahkan data, membuka kebiasaan, bahkan emosi kita pada sistem yang bekerja tanpa wajah,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa manusia cenderung merasa dipahami, terutama saat sedang bingung, cemas, atau mencari pegangan.

Namun, di balik semua itu, Salman berpendapat bahwa ada satu hal yang tetap sama, yaitu keinginan untuk mengetahui masa depan. “Harapan bahwa besok akan lebih baik, dan kadang kita memang butuh diyakinkan,” tulisnya. Meski demikian, ia mengingatkan pembaca untuk tetap kritis dan tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang muncul di layar.

Sebagai penutup, Salman mengajak pembaca untuk menerima ketidakpastian. Ia menekankan bahwa masa depan adalah misteri yang harus diisi dengan tindakan nyata di masa kini. “Dan siapa tahu, justru di sanalah letak keajaibannya, bukan pada apa yang bisa diramal, tapi pada apa yang bisa kita perjuangkan,” pungkasnya.

Pos terkait