Jakarta – Gaya hidup modern picu peningkatan kasus vertigo pada anak muda. Kondisi pusing berputar yang sebelumnya lebih sering dialami lansia ini kini mengintai generasi muda Indonesia akibat perubahan gaya hidup dan tingginya tingkat stres.
Para ahli kesehatan menyoroti pola tidur buruk, kurang istirahat, konsumsi kafein berlebihan, dan penggunaan gawai yang intens sebagai faktor utama peningkatan kasus vertigo pada usia 20 hingga 30 tahun. Aktivitas digital yang berlebihan memperburuk keseimbangan tubuh dan sistem saraf di telinga bagian dalam.
Seorang dokter menjelaskan bahwa vertigo bukanlah penyakit, melainkan gejala dari gangguan lain, seperti infeksi telinga dalam atau stres. “Vertigo itu bukan penyakit, tapi gejala dari gangguan lain, bisa karena infeksi telinga dalam atau stres,” ujarnya, Kamis (16/5/2024).
Gejala vertigo meliputi sensasi ruangan berputar, mual, dan kehilangan keseimbangan. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan memicu kecemasan jika tidak segera ditangani.
Untuk mencegah vertigo, para ahli menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Langkah-langkah sederhana seperti rutin berolahraga ringan, menjaga waktu tidur yang cukup, mengurangi konsumsi kafein, dan memperbanyak minum air putih dapat mengurangi risiko terkena vertigo.
Dokter tersebut menyarankan anak muda yang bekerja dengan jam kerja panjang dan sering terpapar layar untuk melakukan peregangan ringan setiap beberapa jam dan menghindari stres berlebih. “Sistem saraf yang tegang dan kurangnya aliran darah ke otak adalah pemicu utama vertigo modern yang banyak diderita generasi muda,” tegasnya.







