Bukittinggi – Tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali memakan korban. WP (36), seorang guru mengaji asal Payakumbuh, dilarikan ke Rumah Sakit Otak Muhammad Hatta (RSOM) Bukittinggi dan harus menjalani operasi akibat penyiksaan yang dilakukan oleh suaminya.
Ketua Tim Pelayanan Medik RSOM Bukittinggi, Genta Ma Putra, yang memimpin jalannya operasi menjelaskan, tindakan medis tersebut dilakukan karena korban mengalami trauma berat di bagian kepala sebelah kiri. Operasi berlangsung sejak Senin (30/6/2025) malam hingga Selasa (1/7/2025) pagi.
“Karena ada luka terbuka dan pendarahan massif, kami harus melakukan CT scan kepala. Dari CT scan kepala itu ditemukan ada bagian kepala yang pecah yang disebabkan faktor trauma atau benturan yang sangat keras sehingga berakibat patahan tulang kepala,” kata Genta, Selasa (1/7/2025).
Genta menambahkan, saat tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD), korban langsung mendapatkan penanganan medis. Pihaknya kemudian berkoordinasi dengan dokter bedah saraf untuk melakukan operasi. “Alhamdulillah operasi sudah berjalan sesuai dengan harapan. Alhamdulillah korban sudah mulai sadar tadi pagi. Namun, korban masih terlihat gelisah karena masih di bawah pengaruh bius,” ujarnya.
Yenni, kakak sepupu korban, mengungkapkan bahwa peristiwa penganiayaan itu terjadi pada Senin (30/6/2025) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB di kediaman mereka di Jorong Subarang Parik, Nagari Koto Tangah Batuhampar, Kecamatan Akabiluru, Limapuluh Kota. Yenni menuturkan, setelah melakukan KDRT, suami korban berkata kepada nenek, “Nih bawa ke rumah sakit.”
Yenni mengaku tidak mengetahui detail kronologi penyiksaan tersebut karena hanya mendengar cerita singkat dari kakak kandung korban pada Senin (30/6/2025).







