Padang – Pemerintah memperluas program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga awal 2026 jika diperlukan, guna menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen tersebut saat meninjau penyaluran beras SPHP di Pasar Lubuk Buaya, Padang, Sumatera Barat, Selasa (16/9).
“Kami memantau langsung harga di pasar dan melihat operasi pasar berjalan masif. Saat ini, kami telah menyalurkan 6.000-7.000 ton per hari di seluruh Indonesia,” kata Mentan Amran saat kunjungan.
Amran menjelaskan, operasi pasar yang dilakukan secara besar-besaran ini berdampak positif pada stabilitas harga bahan pokok. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan inflasi nasional dari 2,37 persen menjadi 2,31 persen (year on year). “Ini menunjukkan harga-harga penyumbang inflasi relatif stabil,” imbuhnya.
Menurut Amran, pemerintah memiliki cadangan beras yang cukup, sekitar 1 juta ton dari target 1,3 juta ton yang belum tersalurkan. “Kami bersyukur harga semakin membaik dan operasi pasar kita lanjutkan sampai Desember, bila perlu Januari-Februari kita lanjutkan karena stok kita masih banyak,” jelasnya.
Mentan Amran juga menyoroti upaya pemerintah dalam melindungi petani, terutama terkait laporan penurunan harga gabah di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). “Ini harus kita jaga. Kita jaga petaninya, kita jaga juga konsumennya,” tegasnya.
Pemerintah berharap langkah-langkah ini dapat menjaga keseimbangan pangan, mengendalikan harga di pasar, menstabilkan inflasi, dan memastikan petani mendapatkan keuntungan yang layak. Masyarakat diimbau tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan beras, terutama dengan memasuki musim panen kedua pada bulan September. “Yang bermasalah itu kalau stok kita kurang dan harga naik. Sekarang stok kita cukup, jadi masyarakat tidak perlu resah,” pungkas Amran.







