Padang – Kereta Api Minangkabau Ekspres menjadi tumpuan baru dalam upaya mendongkrak sektor pariwisata Sumatera Barat. Moda transportasi ini terbukti efektif meningkatkan kunjungan wisatawan berkat aksesibilitas yang lebih baik dan perjalanan yang nyaman.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza, menyatakan, KA Minangkabau Ekspres memegang peranan penting dalam menghubungkan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dengan pusat Kota Padang. “Peran KA Minangkabau Ekspres sebagai moda transportasi penghubung antara BIM dan pusat Kota Padang turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan mobilitas wisatawan di Sumatera Barat,” kata Reza, Selasa (16/4/2024).
Sebelumnya, wisatawan yang tiba di BIM harus menggunakan taksi atau transportasi darat lain yang memakan waktu dan biaya lebih besar. Kini, dengan KA Minangkabau Ekspres, perjalanan dari bandara ke pusat kota hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit dengan tarif yang terjangkau.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat dan Dinas Pariwisata Sumatera Barat mencatat peningkatan signifikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) melalui BIM. Tercatat 59.043 kunjungan wisman pada periode Januari hingga Agustus 2025. Secara keseluruhan, total kunjungan wisatawan (domestik maupun internasional) mencapai lebih dari 13 juta orang.
Reza menambahkan, KAI Divre II Sumatera Barat mencatat peningkatan jumlah penumpang KA sebesar 11% pada periode Januari-September 2025, mencapai 1,5 juta penumpang. Hal ini menunjukkan penerimaan positif masyarakat terhadap moda transportasi kereta api.
Kontribusi KA Minangkabau Ekspres terhadap sektor pariwisata meliputi pengurangan hambatan waktu dan biaya, peningkatan kenyamanan, distribusi wisata ke destinasi di sekitar jalur rel, serta stimulus ekonomi lokal.
KAI Divre II Sumatera Barat berencana untuk menambah frekuensi dan kapasitas, mengintegrasikan moda transportasi, mengembangkan paket wisata, memperkuat infrastruktur stasiun, serta melakukan monitoring dan evaluasi dampak untuk terus meningkatkan layanan.
“Sinergi antar-pemangku kepentingan seperti Dinas Pariwisata, KAI, pemerintah daerah, dan operator wisata sangat penting untuk menjadikan rel bandara sebagai pemicu utama pariwisata berkelanjutan,” pungkas Reza.







