Jakarta – Naskah drama “Penjual Bendera” karya Wisran Hadi kritisi makna kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya. Drama ini menyoroti isu sosial dan politik yang masih relevan hingga saat ini.
Naskah yang mengisahkan sebuah keluarga penjual bendera ini, menyajikan sindiran tajam terhadap berbagai permasalahan bangsa. Dialog antar tokoh dalam drama ini menyinggung kemiskinan, kesenjangan ekonomi, hingga kebijakan yang merugikan rakyat.
Seorang pengamat sastra mengatakan, naskah ini mengingatkan kita akan perjuangan para veteran dan makna kemerdekaan yang seringkali dilupakan. “Pada dialog Sompeng dan Gareng di awal naskah, kita dapat melihat gigihnya perjuangan seorang veteran yang selalu mengingat perjuangan yang dahulu sempat dia usahakan dan selalu menjaga makna dari kemerdekaan dengan diibaratkan sebuah bendera,” ujarnya, Kamis (16/5/2024).
Drama “Penjual Bendera” juga menyoroti batasan kebebasan yang dirasakan masyarakat. Kutipan dialog Gareng, “Kemerdekaan punya batas dan batasan. Pegawai punya aturan dan peraturan. Semuanya harus tahu aturan. Karenanya istri-istri juga harus tahu aturan,” menggambarkan realitas tersebut.
Selain itu, naskah ini menyentil para pemimpin yang berfoya-foya dengan uang rakyat dan kebijakan impor yang merugikan produk dalam negeri. Akhir cerita menggambarkan kekecewaan masyarakat terhadap kondisi bangsa.
“Kalian telah berusaha membuat bendera, tapi kalah bersaing dengan bendera buatan luar negeri. Kalian pahlawan, korban dari persaingan perdagangan,” kata Sompeng dalam naskah tersebut.
Melalui “Penjual Bendera”, Wisran Hadi mengajak masyarakat untuk merefleksikan makna kemerdekaan dan melihat realitas sosial di sekitar. Naskah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki masih terus berlanjut.







