Padang – Pengalaman hampir merenggut nyawa di jalur Sitinjau Laut pada era 80-an menjadi titik balik bagi seorang remaja untuk meraih cita-cita. Peristiwa tersebut mengajarkan pentingnya kendali dalam hidup.
Alfitri, Dosen Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas, menceritakan langsung bahwa kejadian itu bermula ketika ia dan teman-temannya nongkrong di kawasan Ladang Padi, Sitinjau Laut, usai menonton midnight show.
“Spontan, beberapa teman lain dan saya pun menimpali dengan antusias, ‘yuk…yuk…brangkat’,” ujar Alfitri, mengenang malam itu.
Saat perjalanan pulang menjelang subuh, Alfitri yang mengendarai vespa seorang diri mencoba menetralkan gigi motornya di jalan turunan. Niatnya untuk menghemat bensin justru berujung petaka. Vespa yang dikendarainya meluncur tak terkendali di jalur curam dan berkelok-kelok.
“Di depan saya, belokan tajam sudah menanti. Di kiri, ada sebagian pagar tembok pembatas dan setelah itu… jurang yang dalam dan gelap gulita. Saya mulai panik,” ungkapnya.
Dengan segala upaya, Alfitri berhasil mengendalikan vespanya dan selamat dari maut. Pengalaman tersebut membuatnya tersadar akan pentingnya kendali dalam hidup.
“Dari hampir mati di atas vespa, saya belajar tentang pentingnya kendali – bukan hanya kendali kendaraan, tetapi kendali dalam hidup ke arah yang benar,” tegasnya.
Kejadian itu menjadi pelajaran berharga bagi Alfitri. Ia mulai menata hidupnya dan fokus pada pendidikan. Sekolah yang semula hanya dianggap sebagai rutinitas, diubah menjadi momen yang menyenangkan.
“Masa muda bukan hanya untuk main-main. Cukup sudah tiga semester tanpa orientasi yang jelas selama sekolah di SMA. Tiga semester ke depan hidup mesti ditata dan dikelola untuk meraih cita-cita,” pungkasnya.







