Paguyuban Perisai Diri Tuding IPSI Padang Tak Transparan

abaikan-atlet-berprestasi-dalam-seleksi-porprov,-paguyuban-perisai-diri-1955-tuding-ipsi-kota-padang-tidak-transparan
Abaikan Atlet Berprestasi dalam Seleksi Porprov, Paguyuban Perisai Diri 1955 Tuding IPSI Kota Padang Tidak Transparan

Padang – Polemik seleksi atlet pencak silat Kota Padang untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) kembali mencuat setelah Perguruan Silat Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955 Sumatera Barat merasa sejumlah atlet potensialnya tak mendapat undangan seleksi. Seleksi yang digelar di GOR PT Semen Padang itu kini dipersoalkan karena dinilai berjalan tidak transparan.

Pelatih Perguruan Silat Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955 Sumatera Barat, Ricky Mendoza, menilai proses pemanggilan atlet berlangsung tertutup. Ia menyebut, kondisi itu membuat beberapa atlet berprestasi dari perguruannya kehilangan kesempatan untuk bersaing membela Kota Padang pada Porprov mendatang.

Bacaan Lainnya

Ricky mengatakan pihaknya sudah meminta penjelasan langsung kepada Ketua IPSI Kota Padang, Zuhardi Z Latief, terkait alasan tidak dipanggilnya atlet-atlet dari Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri Sumbar. Namun hingga kini, ia mengaku belum memperoleh jawaban yang jelas.

“Kami sudah mempertanyakan langsung kepada Ketua IPSI Kota Padang melalui pesan WhatsApp, tetapi sampai sekarang belum ada penjelasan yang jelas. Kami merasa perguruan kami diperlakukan tidak adil oleh IPSI Kota Padang,” ujar Ricky, Senin (11/5/2026).

Ia menegaskan, atlet binaannya punya catatan prestasi di level provinsi, nasional, hingga internasional. Menurut dia, torehan itu seharusnya cukup menjadi dasar untuk memberikan mereka kesempatan dalam seleksi Porprov.

“Seharusnya atlet-atlet kami yang sudah berprestasi diberi kesempatan mengikuti seleksi. Namun kenyataannya kami sama sekali tidak menerima undangan. Kami merasa dizalimi dan dirugikan,” katanya.

Ricky juga menilai IPSI Kota Padang diduga tidak menjalankan mekanisme seleksi sesuai aturan organisasi yang tertuang dalam AD/ART IPSI. Ia menekankan, seleksi semestinya terbuka dan memberi peluang yang sama bagi seluruh atlet berprestasi di Kota Padang.

Dalam penjelasannya, Ricky menyebut dua atlet yang menurutnya layak dipanggil, yakni Aditya Sastra Maulana di kelas B dewasa putra dan Muhammad Alfa Rezi di kelas I dewasa putra.

Aditya Sastra Maulana disebut mengoleksi sejumlah prestasi, di antaranya Juara I Kejuaraan Pencak Silat Bhayu Manunggal Championship 2025 tingkat nasional. Ia juga meraih Juara I Kejuaraan Pencak Silat Tanah Melayu Championship 2026 tingkat internasional serta Juara I National Student Sports Competition Tahun 2025.

Sementara itu, Muhammad Alfa Rezi juga mencatat prestasi di beberapa ajang bergengsi. Ia meraih Juara I 3rd International Indonesian Pencak Silat Open Championship 2025 tingkat internasional dan Juara II Bhayu Manunggal Championship 2025 tingkat nasional.

“Dengan berbagai prestasi yang diraih Aditya dan Rezi, menurut kami tidak ada alasan bagi IPSI Kota Padang untuk tidak memanggil keduanya untuk mengikuti seleksi Porprov. Kedua atlet kami ini sudah membuktikan kualitasnya di berbagai kejuaraan,” tegas Ricky.

Ia berharap IPSI Kota Padang memberikan penjelasan secara terang benderang soal mekanisme pemanggilan atlet agar tidak muncul kesan diskriminatif terhadap perguruan tertentu. “Kami butuh penjelasan yang bisa kami terima,” ujarnya.

Menurut Ricky, keterbukaan dalam seleksi penting untuk menjaga kepercayaan atlet dan perguruan pencak silat di Kota Padang. Ia khawatir polemik serupa akan terus berulang dan mengganggu semangat pembinaan atlet daerah.

“Kami hanya ingin ada keadilan dan transparansi. Jangan sampai atlet-atlet yang sudah berjuang dan berprestasi justru tidak mendapatkan kesempatan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Ketua IPSI Kota Padang, Zuhardi Z Latief, membantah tudingan bahwa pihaknya menutup peluang bagi atlet berprestasi untuk ikut seleksi. Ia menjelaskan, seleksi Porprov kali ini memang tidak digelar secara umum karena beberapa kelas sudah diisi atlet Kota Padang yang tengah menjalani pemusatan latihan daerah (Pelatda).

“Kami memang tidak membuka seleksi secara umum karena atlet Pelatda tidak lagi mengikuti seleksi. Seleksi hanya dilakukan untuk kelas-kelas di luar atlet yang sedang mengikuti Pelatda,” kata Zuhardi.

Ia menambahkan, atlet yang dipanggil mengikuti seleksi merupakan mereka yang dinilai memiliki prestasi di tingkat provinsi, nasional, maupun internasional. Namun saat disinggung soal adanya atlet dari Paguyuban Kesilatnas Perisai Diri 1955 Sumatera Barat yang dinilai memenuhi syarat tetapi tidak dipanggil, Zuhardi mengaku tidak mengetahui rinci proses pemanggilan tersebut.

“Kalau memang ada atlet yang memenuhi syarat tetapi tidak diundang, saya tidak tahu secara rinci. Karena proses pemanggilan dilakukan oleh tim pelatih. Ada Yuharmen dan juga Sekretaris Umum IPSI Kota Padang, Hendri Aji,” ujarnya.

Polemik ini kini menjadi perhatian publik karena menyangkut transparansi dan mekanisme seleksi atlet di tubuh IPSI Kota Padang. Sejumlah pihak berharap persoalan tersebut segera diselesaikan secara terbuka agar pembinaan pencak silat di Kota Padang tetap berjalan sehat dan profesional.

Pos terkait