Jakarta – Kebijakan kontroversial seorang walikota yang menghukum pelanggar aturan bahasa lebih berat dari koruptor menjadi sorotan dalam cerpen “Seekor Beras dan Sebutir Anjing” karya Eka Arief Setyawan. Cerpen ini mengisahkan tentang sisi gelap kekuasaan melalui kebijakan absurd yang dibuat oleh Willem Sambar, seorang walikota yang akan mengakhiri masa jabatannya dalam tiga bulan.
Peraturan aneh yang dibuat Sambar, yaitu mengganti penggunaan kata “seekor” untuk benda dan “sebutir” untuk hewan, memicu keresahan di Negeri Alur. Masyarakat menjadi saling curiga, bahkan guru bahasa dan anggota dewan pun tak luput dari penangkapan akibat kesalahan pengucapan. Hukuman bagi pelanggar aturan ini sangat berat, yaitu penjara minimal sepuluh tahun.
Kisah ini mengungkap luka masa lalu Sambar yang penuh kekerasan. Pembaca dibawa ke masa kecil Sambar melalui alur kilas balik, di mana ia sering dihina dan dipukul oleh ayahnya, bahkan dipanggil “seekor anjing”. Trauma masa kecil ini kemudian termanifestasi dalam kebijakan absurd yang ia buat saat berkuasa.
Puncak cerita terjadi saat masyarakat turun ke jalan menuntut keadilan. Di tengah kekacauan, Sambar berteriak, “Saya sudah menunaikan seluruh dendam saya.” Kalimat ini menjadi kunci untuk memahami bahwa di balik aturan bahasa yang aneh, terdapat luka yang belum sembuh.
Menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud, pengalaman traumatis di masa kecil dapat ditekan ke alam bawah sadar dan muncul kembali dalam bentuk tindakan yang tidak logis. Psikolog sastra Suwardi Endraswara juga berpendapat, tokoh yang memiliki trauma masa kecil sering menunjukkan pelampiasan saat dewasa.
Keputusan Sambar bukan hanya soal bahasa, tetapi juga simbol trauma yang membentuk dirinya sejak kecil. Ketika ia menjadi pemimpin, luka itu muncul dalam bentuk kekuasaan yang otoriter. Tindakannya menunjukkan bahwa hukum dapat dijadikan alat pelampiasan terhadap masa lalu yang belum selesai.
Cerpen ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa luka batin yang tidak disembuhkan dapat menjelma menjadi kekuasaan yang melukai orang lain. Dalam tokoh Sambar, kita melihat seorang pemimpin yang membuat aturan absurd dan seorang anak yang tumbuh dengan trauma dan dendam.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang dijalankan tanpa penyembuhan batin dapat melahirkan kebijakan yang tidak adil. Hukum seharusnya menjadi alat keadilan, bukan alat balas dendam. Cerpen ini juga membuka pemikiran kita untuk melihat sisi manusiawi dari seseorang yang otoriter.







