Skena dan Kalcer Padang: Gen Z Ciptakan Gaya Hidup, Ekspresi Baru

perbedaan-tren-skena-dan-kalcer
Perbedaan Tren Skena dan Kalcer

Padang – Generasi Z di Kota Padang kini gandrung dengan istilah “skena” dan “kalcer” yang menjadi representasi gaya hidup dan tren terkini. Fenomena ini memengaruhi cara anak muda bersosialisasi dan berekspresi, sekaligus mencerminkan adaptasi terhadap perubahan zaman yang serba cepat.

Pengamat sosial budaya, Ayuna, menjelaskan bahwa “skena” merupakan perkumpulan anak muda yang gemar berinteraksi dan mencari kesenangan bersama. “Skena itu perkumpulan anak muda yang suka nongkrong, bercengkerama, dan jalan-jalan,” ujarnya, Kamis (16/05/2024). Ia menambahkan, skena menjadi wadah bagi mereka yang merasa tidak terakomodasi oleh arus utama.

Bacaan Lainnya

Sosiolog Anggiani menyoroti bahwa skena mencerminkan dinamika sosial akibat pengaruh media sosial terhadap persepsi dan interaksi dalam kelompok-kelompok subkultur. Menurutnya, skena yang awalnya dibentuk oleh kesamaan visi dan minat, kini lebih terkait dengan aspek visual dan penampilan.

Sementara itu, “kalcer” diidentikkan dengan sesuatu yang berkualitas dan bernilai lebih di mata generasi Z, terutama dalam dunia fashion. Pelestari bahasa, Ivan Lanin, menjelaskan bahwa kalcer merujuk pada hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia, seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. “Dalam bahasa gaul, kalcer merujuk pada gaya hidup yang sedang hits atau tren yang berpotensi menjadi satu kebudayaan baru,” ungkapnya.

Di Kota Padang, kelompok skena banyak ditemukan di kafe-kafe kecil dan warung kopi. Kawasan Alahan Panjang juga menjadi lokasi favorit bagi mereka untuk berkumpul, berkemah, atau sekadar menikmati alam.

Tren skena dan kalcer memberikan dampak positif ketika generasi muda dapat memilah lingkungan yang positif. Keduanya memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi, mengeksplorasi identitas, serta membangun komunitas yang solid berdasarkan minat dan nilai yang sama.

Namun, penting bagi generasi muda untuk tetap kritis dan selektif dalam mengikuti tren agar tidak kehilangan jati diri dan terjebak dalam budaya konsumtif yang semu. Dengan memanfaatkan tren tersebut secara positif, generasi muda dapat menjadikannya sebagai sarana pengembangan diri, kreativitas, dan solidaritas sosial.

Pos terkait