Padang – Mahasiswi Universitas Andalas (Unand), Delivia Nazwa Syafiariza, menuangkan refleksi mendalam tentang kebebasan, harapan, dan pergulatan batin melalui empat puisi yang kaya metafora. Karya-karyanya menggunakan elemen air dan Danau Maninjau sebagai simbol untuk menggambarkan kompleksitas emosi manusia.
Keempat puisi tersebut, berjudul “Penjara Air,” “Riak,” “Gelombang Pikiran,” dan “Harapan di Punggung,” menawarkan perspektif unik tentang pengalaman hidup. Delivia, yang aktif di UKMF Labor Penulisan Kreatif Unand, mengungkapkan bahwa inspirasi puisinya berasal dari pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari dan refleksi pribadinya.
Dalam “Penjara Air,” Delivia mengkritisi janji-janji manis yang justru menjebak dan membatasi kebebasan. “Keramba ini bukan rumah, ia penjara yang disamarkan,” tulisnya, menggambarkan bagaimana sesuatu yang awalnya tampak menjanjikan dapat berubah menjadi kurungan.
Puisi “Riak” mengeksplorasi tema harapan dan kerinduan. Ia menulis tentang pencarian ketenangan di Danau Maninjau, berharap riak air membawa kabar baik, namun juga menyadari bahwa ketenangan itu sementara dan riak dapat membawa keresahan.
“Gelombang Pikiran” menyelami pergulatan batin dan perasaan terasing. Delivia menggambarkan perasaan tenggelam dalam pikiran sendiri, mencari tepian namun selalu kalah oleh kabut dan gelombang. “Aku tenggelam, bukan di danau, melainkan dalam gelombang pikiranku sendiri,” ungkapnya.
Sementara itu, “Harapan di Punggung” menggambarkan beban harapan yang dipikul seseorang. Delivia menulis tentang menanggung langit luas dan bayangan harapan orang lain, namun tetap berusaha untuk tidak runtuh. “Mereka tak menuntut, tapi aku tahu mereka berharap,” tulisnya.
“Saya ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai kebebasan, menghadapi tantangan, dan tidak menyerah pada harapan,” kata Delivia, menjelaskan pesan yang ingin disampaikannya melalui puisi-puisinya.







