Padang – Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Andalas, Zahrah Ziqro, hadirkan lima karya puisi yang menggugah refleksi tentang eksistensi diri. Puisi-puisi yang ditulis sejak tahun 2025 ini mengeksplorasi tema keraguan, pencarian makna hidup, dan pergulatan batin.
Karya-karya Zahrah menawarkan perspektif intim tentang perjalanan hidup. Melalui puisinya, ia mengajak pembaca untuk merenungkan makna eksistensi dan menemukan kekuatan dalam diri sendiri.
“Saya menulis untuk memahami diri sendiri dan mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di benak saya,” kata Zahrah, kelahiran Padang, 12 November 2005, mengenai inspirasi di balik karya-karyanya. Ia menambahkan bahwa puisi-puisinya merupakan cerminan dari pengalaman pribadi dan observasinya terhadap dunia sekitar.
Salah satu puisinya, “Sayap,” menggambarkan kerinduan untuk terbang dan mengatasi keraguan diri. Dalam lariknya, Zahrah menulis, “Kapan sayapku berani mengepak? Kapan aku bisa percaya pada angin yang menunggu?” Bait ini menggambarkan perjuangan untuk melepaskan diri dari ketakutan dan meraih potensi diri.
Puisi lainnya, “Berisik,” mengeksplorasi tema kecemasan dan suara-suara negatif dalam pikiran. “Ada seekor bayangan yang tinggal di dalam kepalaku. Ia berbisik seperti seribu serangga di malam sunyi,” tulis Zahrah, menggambarkan pergulatan untuk menemukan kedamaian batin.
“Tak Sama” menyoroti perasaan berbeda dan pertanyaan tentang tujuan hidup. Sementara itu, “Pulang ke Dasarmu,” yang ditulis di Maninjau, menawarkan pelarian ke alam sebagai tempat perlindungan dan penyembuhan. “Engkaulah rumah yang tak pernah menuntut,” tulis Zahrah, menggambarkan alam sebagai tempat untuk melepaskan lelah dan menemukan kedamaian.
Terakhir, “Tak Apa” juga ditulis di Maninjau, mengajarkan tentang menerima ketertinggalan dan menghargai setiap langkah kecil dalam hidup. “Sebab angin kecil pun mempu menggerakkan permukaan perlahan,” tulis Zahrah, menekankan pentingnya menghargai proses dan usaha.







