Padang – Ekspresi kepedulian terhadap isu kemanusiaan menemukan wadahnya dalam karya sastra. Puisi “Tamimi” karya Bode Riswandi menjadi contoh nyata bagaimana sastra dapat menyuarakan penderitaan, khususnya yang dialami anak-anak Palestina akibat konflik.
Aldi Ferdiansyah, mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, pada Jumat (27/6/2025) menjelaskan bahwa puisi, sebagai bentuk sastra yang ekspresif, memberikan keleluasaan bagi penyair untuk menyampaikan pesan secara estetis melalui bahasa yang padat dan simbolik. “Puisi terkadang menyuarakan rasa simpati kita terhadap kejadian atau fenomena yang ada di kehidupan nyata,” ujarnya.
Aldi menambahkan, kekuatan bahasa dalam puisi mampu menggugah kesadaran pembaca terhadap situasi yang mungkin terabaikan. Sastra, dalam hal ini, menjadi medium perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan, atau tragedi kemanusiaan.
Menurut Aldi, puisi “Tamimi” lahir dari keprihatinan mendalam terhadap tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina. Bode Riswandi, melalui puisi ini, menyuarakan jeritan hati anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil, namun justru hidup dalam bayang-bayang kekerasan dan kehilangan hak dasarnya untuk hidup damai.
Analisis gaya bahasa dalam puisi “Tamimi” menunjukkan penggunaan hiperbola, personifikasi, metafora, simile, dan simbolik. Aldi mencontohkan, hiperbola digunakan untuk menyampaikan sesuatu secara berlebihan, seperti pada larik “Tak ada masa kanak-kanak di sini” dan “Ruang bermain tersimpan rapi di perut bumi”. Personifikasi terlihat pada larik “Mimpi-mimpi kian asing dari sejumlah tidur”, yang menggambarkan mimpi seolah memiliki sifat manusia.
Lebih lanjut, Aldi menjelaskan bahwa metafora digunakan untuk membandingkan dua hal secara implisit, seperti pada larik “Air mata kami telah jadi logam dan baja”. Simile, dengan ciri khas penggunaan kata pembanding, hadir pada larik “Dentuman rudal dan bunyi tembakan itu seperti lagu-lagu rakyat yang biasa kami nyanyikan di halaman rumah”. Gaya bahasa simbolik memanfaatkan lambang untuk menyampaikan pesan, seperti batu sebagai simbol perlawanan.
Penggunaan gaya bahasa tersebut, menurut Aldi, memperindah bentuk dan mempertajam pesan dalam puisi. Pembaca dapat merasakan emosi dan menerima kesan tertentu dalam pengalaman membacanya. “Majas merupakan teknik pengungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan atau makna yang tersirat,” jelasnya, mengutip Nurgiantoro (2017:215).
Aldi menyimpulkan pada Jumat (27/6/2025), bahwa puisi “Tamimi” memiliki unsur estetika yang kuat melalui perpaduan emosi, gaya penulisan, dan pilihan diksi yang penuh makna. Secara keseluruhan, puisi ini merupakan bentuk ekspresi puitik yang kuat terhadap penderitaan rakyat Palestina, yang tidak hanya menyampaikan empati dan solidaritas, tetapi juga membangun kekuatan emosional dan daya renung bagi pembaca.







