Padang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama musim kemarau. Peringatan itu disampaikan menyusul kondisi lahan yang kini lebih kering dan mudah terbakar.
Kalaksa BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menegaskan pencegahan Karhutla menjadi tanggung jawab bersama. Ia meminta warga tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, terutama di kawasan hutan, lahan kosong, semak belukar, dan lahan gambut.
“Pada musim kemarau, kondisi lahan menjadi lebih kering sehingga sangat mudah terbakar. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan tidak membakar sampah di dekat kawasan hutan maupun lahan gambut,” ujar Hendri Zulviton dalam keterangan pers, Sabtu (6/6/2026).
BPBD juga meminta masyarakat segera melapor jika menemukan titik api atau kepulan asap yang berpotensi meluas. Laporan bisa disampaikan melalui Padang Command Center 112 agar petugas cepat melakukan penanganan.
Hendri menjelaskan, pemilik lahan gambut perlu menjaga kelembapan tanah dengan mempertahankan muka air tanah agar tidak cepat mengering. Ia juga mengajak masyarakat melakukan patroli mandiri secara berkala, terutama pada sore hari, untuk mendeteksi titik api sejak awal.
“Semakin cepat titik api ditemukan, semakin mudah pula proses pemadaman dilakukan. Jangan menunggu api membesar baru dilaporkan,” katanya.
BPBD Kota Padang turut menyoroti dampak kesehatan akibat Karhutla. Kabut asap dapat memicu gangguan pernapasan atau ISPA, iritasi mata, serta lebih berbahaya bagi anak-anak dan lanjut usia.
Saat kabut asap tebal terjadi, warga diminta memakai masker, menutup pintu dan jendela rumah, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan demi mencegah gangguan kesehatan.
Hendri berharap seluruh elemen masyarakat ikut berperan aktif mencegah Karhutla agar Kota Padang tetap aman, sehat, dan terhindar dari bencana kebakaran hutan dan lahan sepanjang musim kemarau tahun ini.
“Mencegah lebih mudah daripada memadamkan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan menghindari segala aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” tutup Hendri.







