Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperluas upaya penguatan literasi ketenagakerjaan dan kecakapan digital di kalangan jurnalis kampus melalui kerja sama dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Kolaborasi ini menitikberatkan pada penguasaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai bekal menghadapi transformasi dunia kerja.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman antara Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi dan Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Kemitraan ini akan berlangsung selama tiga tahun.
Selama masa kerja sama, kedua pihak akan menjalankan sejumlah program, mulai dari pengembangan kapasitas sumber daya manusia, kolaborasi literasi, hingga optimalisasi sarana pendukung bagi generasi muda. Kemitraan ini juga ditujukan untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai penyebar informasi yang relevan di lingkungan kampus.
Cris Kuntadi menegaskan, media massa memiliki peran besar dalam menyampaikan informasi ketenagakerjaan yang akurat dan mendidik. Menurut dia, Kemnaker ingin menyiapkan generasi muda dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan zaman agar siap menghadapi perubahan di dunia kerja.
“Fokus utama kerja sama ini adalah menyiapkan generasi muda, khususnya jurnalis kampus, agar memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan AI. Kami ingin memperkuat edukasi ketenagakerjaan melalui publikasi yang informatif dan mudah dipahami masyarakat,” ujar Cris.
Ia menilai disrupsi digital sudah menjadi kenyataan yang menuntut kesiapan kompetensi secara berkelanjutan. Karena itu, program upskilling dan reskilling dinilai penting agar angkatan kerja baru tetap kompetitif di pasar kerja global.
Selain penguatan SDM, kolaborasi ini juga diarahkan untuk memperkenalkan ekosistem layanan ketenagakerjaan “SiapKerja” kepada publik. Layanan tersebut mencakup peningkatan kompetensi, penempatan tenaga kerja, pengembangan usaha, hingga jaminan sosial.
Kemnaker berharap mahasiswa yang terlibat dalam program itu dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Cris menegaskan, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga harus mampu mendorong masyarakat agar lebih produktif, adaptif, dan berdaya saing.







