Lonjakan Harga Cabai Merah Dorong Inflasi Sumatera Barat Meningkat

Tumpukan cabai merah segar di pasar tradisional sebagai komoditas utama pemicu inflasi di Sumatera Barat.

Padang – Lonjakan harga komoditas pangan, khususnya cabai, menjadi pemicu utama kenaikan angka inflasi di Sumatera Barat pada Oktober 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (yoy) daerah ini menyentuh angka 3,97%, meningkat dari 3,50% pada bulan sebelumnya.

Kepala Wilayah Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, Muhammad Abdul Majid Ikram, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,80%.

Baca Juga

“Peningkatan inflasi bulanan terutama didorong oleh lonjakan harga aneka cabai di seluruh wilayah sampel IHK, yang dipengaruhi oleh tingginya permintaan dari luar daerah di tengah berkurangnya pasokan nasional akibat dampak El Niño serta cuaca yang tidak menentu,” ujar Majid, Selasa (3/11/2026).

Menurut Majid, cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi turut mengganggu produktivitas petani di sentra-sentra pertanian Sumbar, yang berujung pada penurunan hingga gagal panen.

Cabai merah tercatat sebagai penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan bulanan mencapai 40,06%. Kota Padang mencatat lonjakan harga cabai merah paling ekstrem sebesar 44,56%, sementara Kabupaten Pasaman Barat merasakan dampak inflasi paling terasa dengan andil 1,63%. Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit, cabai hijau, ikan cakalang, serta biaya pendidikan tinggi.

Di sisi lain, laju inflasi sempat tertahan oleh penurunan harga pada komoditas daging ayam ras, bawang merah, kentang, serta normalisasi tarif angkutan udara.

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota sampel IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi. Kabupaten Pasaman Barat menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,42%. Untuk inflasi tahunan, Kabupaten Dharmasraya mencatat angka tertinggi yakni 5,25%.

Guna menekan laju inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Bank Indonesia kini mengintensifkan gerakan pangan murah, operasi pasar, serta optimalisasi kerja sama antar daerah untuk menjaga stabilitas pasokan.

Menatap akhir tahun, BI optimistis tekanan inflasi akan melandai seiring masuknya masa panen raya di sejumlah sentra produksi seperti Solok dan Tanah Datar.

“Hingga akhir tahun 2026, inflasi Sumatera Barat diperkirakan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5%±1%, didukung oleh perbaikan pasokan pangan dan komitmen kuat sinergi TPID,” pungkas Majid.

Rekomendasi