Bitung – Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang laut di tenggara Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara pada Kamis (2/4/2026) pukul 05.48 WIB dengan pusat pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT pada kedalaman 62 kilometer, menurut data pemutakhiran resmi.
Guncangan terasa sangat kuat selama 10–20 detik di Bitung dan sekitarnya serta terasa kuat di Kota Ternate, Maluku Utara, sehingga membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Petugas melaporkan belum ada laporan korban jiwa yang terkonfirmasi saat ini.
“Hingga pukul 07.00 WIB, tercatat dua gempa susulan masing-masing berkekuatan magnitudo 5,5 pada pukul 06.07 WIB dan magnitudo 5,2 pada pukul 06.12 WIB. Kedua gempa susulan tersebut berpusat di laut dan tidak berpotensi tsunami, namun tetap dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak,” ungkap Abdul Muhari, Ph.D, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangan pers.
Dampak awal yang dihimpun menunjukkan adanya kerusakan ringan hingga sedang di Kota Ternate. Abdul Muhari menyebut satu unit tempat ibadah (gereja) di Kecamatan Pulau Batang Dua terdampak, dan dua unit rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan mengalami kerusakan. Di Bitung, pendataan dampak masih terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Pemantauan sistem peringatan dini mencatat gelombang tsunami berukuran relatif kecil; sekitar 0,3 meter terdeteksi di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB dan 0,2 meter tercatat di Bitung pada pukul 06.15 WIB. “Meskipun relatif kecil, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan karena potensi gelombang susulan masih dapat terjadi,” kata Abdul Muhari.
BNPB menghimbau masyarakat di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara untuk menjauhi pantai dan tidak kembali ke area rawan sebelum ada pernyataan resmi aman dari pemerintah. “Masyarakat juga diminta untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari aparat setempat, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” tambah Abdul Muhari.
Petugas terus memantau perkembangan situasi dan akan meng-update informasi sesuai hasil survei di lapangan. Masyarakat diimbau mengikuti arahan resmi BPBD dan BNPB serta memastikan informasi melalui saluran yang kredibel.







