Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersiap memperluas cakupan program pendampingan produktivitas perusahaan ke skala nasional setelah proyek percontohan yang melibatkan 20 perusahaan sejak September lalu memberikan hasil positif. Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat daya saing industri sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menekankan bahwa efisiensi di internal perusahaan harus dibarengi dengan strategi pemasaran yang tepat agar memberikan dampak ekonomi nyata. Ia mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas produksi akan menjadi sia-sia apabila produk yang dihasilkan tidak relevan dengan kebutuhan pasar.
“Peningkatan produktivitas ini tidak akan berdampak nyata jika pasarnya tidak mampu menyerap produk tersebut,” ujar Yassierli saat melakukan evaluasi kegiatan pendampingan di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Yassierli memperkenalkan strategi 4P+1M yang menjadi acuan pendampingan. Strategi ini mencakup pembenahan proses kerja, kualitas produk, pengembangan SDM, kebijakan perusahaan, serta penguatan pemasaran. Pemerintah menargetkan pendekatan terstruktur ini dapat diimplementasikan ke ratusan ribu perusahaan secara bertahap tahun depan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Binalavotas Kemnaker, Darmawansyah, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan menyeimbangkan ekosistem ketenagakerjaan melalui intervensi pada sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply).
“Jadi, kita melakukan intervensi dari sisi supply melalui pelatihan vokasi dan pemagangan, kemudian dari sisi demand melalui peningkatan produktivitas perusahaan,” kata Darmawansyah.
Program ini diharapkan mampu menciptakan sinkronisasi antara kualitas tenaga kerja yang dihasilkan melalui pelatihan vokasi dengan kemampuan perusahaan dalam menyerap tenaga kerja secara optimal.







