Dokter Unand Padang Abadikan Jeritan Gaza dalam Novel “Gaza Tak Pernah Sunyi

puisi-luka-gaza-dalam-“gaza-tak-pernah-sunyi”-karya-hardi
Puisi Luka Gaza dalam “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Padang – Tragedi kemanusiaan di Gaza diangkat dalam novel terbaru berjudul “Gaza Tak Pernah Sunyi” karya Hardi, seorang akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Novel ini mengisahkan penderitaan rakyat Gaza melalui sudut pandang seorang dokter relawan Indonesia.

Hardi, penulis novel tersebut, mengungkapkan bahwa karyanya merupakan refleksi kehidupan dan potret kekejaman perang yang dialami warga Gaza. “Saya menulis novel ini dengan gaya bahasa prosa puisi dengan narasi yang reflektif,” ujarnya secara langsung.

Bacaan Lainnya

Kisah dalam novel ini mengikuti perjalanan dokter Adrian Hazim Malik dalam menjalankan misi kemanusiaan di Gaza. Pembaca diajak untuk merasakan dampak blokade Israel yang menyebabkan isolasi Gaza dari dunia luar. Gambaran mengerikan tentang rumah sakit yang dipenuhi pasien berdarah-darah, reruntuhan bangunan, dan anak-anak yang terluka dihadirkan secara nyata.

Penulis dan sastrawan Sumatera Barat, Ragdy F. Daye, memberikan ulasan positif terhadap novel ini. “Kisah dokter Adrian menjalankan misi kemanusiaan ini memberi gambaran kekejaman perang,” tulis Daye. “Suara bom, runtuhan bangunan, dan korban sipil yang tak berdosa hadir kuat dalam teks.”

Novel ini juga menyoroti ketabahan rakyat Gaza dalam mempertahankan martabat dan iman di tengah penderitaan. Hardi mengajak pembaca untuk membuka mata terhadap penderitaan Gaza dan menyuarakan kepedulian melalui berbagai cara, termasuk memberikan sumbangan dan menyebarluaskan informasi.

Daye menambahkan, “Penulis mengajak pembaca untuk tidak menutup mata, melainkan ikut merasakan dan menyuarakan penderitaan Gaza.”

Karya ini hadir di tengah sorotan dunia terhadap konflik di Gaza, di mana Komisi Penyelidik PBB bahkan menyatakan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina, memenuhi sebagian besar kriteria tindakan yang dikategorikan hukum internasional sebagai genosida.

Selain itu, novel ini juga menyentuh sisi spiritualitas pembaca melalui puisi-puisi yang menyinggung doa, keimanan, dan keyakinan bahwa penderitaan akan berbuah kemenangan. Meskipun terdapat beberapa kelemahan dalam eksplorasi tokoh dan konflik, “Gaza Tak Pernah Sunyi” tetap menjadi karya yang patut diapresiasi karena telah menjadi suara tentang krisis kemanusiaan di Gaza dan solidaritas umat manusia terhadap Palestina.

Pos terkait