Sastra Peranakan Tionghoa Padang: Bangkit dari Pinggiran, Menulis Ulang Sejarah

jejak-peranakan-tionghoa-dalam-sastra-indonesia
Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Padang – Sastra Peranakan Tionghoa kini mendapat pengakuan sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah sastra Indonesia modern setelah sempat lama terpinggirkan. Karya-karya yang berani mengangkat isu sosial, politik, dan kemanusiaan ini dulunya dianggap “liar” dan tidak sesuai dengan kebijakan kolonial Belanda.

Hasbi Witir, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas, mengungkapkan bahwa selama ini sejarah sastra Indonesia modern terlalu fokus pada karya-karya Balai Pustaka. “Pandangan yang sempit ini membuat banyak penulis peranakan Tionghoa terlupakan, padahal mereka turut menanamkan semangat nasionalisme,” ujarnya secara langsung.

Bacaan Lainnya

Menurut Hasbi, sastra peranakan Tionghoa justru lebih dulu menyoroti isu-isu penting yang terjadi di masyarakat. Ia mencontohkan karya-karya seperti “Drama di Boven Digoel” karya Kwee Tek Hoay dan “Merah” karya Lim Khing Hoo yang berani mengangkat perlawanan terhadap kolonialisme.

Seiring waktu, sastra peranakan Tionghoa terus berkembang dan mengangkat isu-isu yang lebih luas, termasuk kehidupan pribumi, perjuangan rakyat, dan isu-isu sosial lainnya. Hal ini membuat karya-karya mereka terasa lebih realistis dan dekat dengan pembaca. Bahkan, beberapa penulis peranakan Tionghoa berani mengangkat tema-tema tabu yang tidak disentuh oleh Balai Pustaka, seperti pemogokan buruh, pemberontakan 1926, dan pengasingan ke Boven Digoel.

Peneliti sastra, Liang Liji, menemukan sebuah novel berbahasa Sunda berjudul “Tjin Nio atawa Istri Sadjati di Medan Perang Tiongkok-Japan” (1938) karya A.S. Tamoewiredja, yang diduga merupakan penulis peranakan Tionghoa. Novel ini menceritakan kisah cinta dan perjuangan di tengah perang Tiongkok-Jepang, serta menyelipkan pesan kemanusiaan dan nilai-nilai keislaman.

“Sastra peranakan Tionghoa bukanlah bagian pinggiran, melainkan mata rantai penting dalam sejarah sastra Indonesia modern,” tegas Hasbi. Ia menambahkan bahwa sastra Indonesia tumbuh dari berbagai budaya dan pengalaman sosial, bukan dari satu sumber saja.

Hasbi berharap agar sejarah sastra Indonesia dapat ditinjau ulang dengan pandangan yang lebih inklusif dan objektif. “Mengakui keberadaan sastra peranakan Tionghoa berarti mengakui bahwa sastra Indonesia lahir dari keberagaman budaya dan etnis,” pungkasnya.

Pos terkait