Padang – Bahasa gaul atau slang kini menjadi identitas khas di kalangan anak muda, sebuah cerminan kreativitas dan perubahan zaman yang tak terhindarkan. Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa anak muda menjelma menjadi arena ekspresi diri yang unik.
Menurut M. Subarkah, alumni Sastra Indonesia dan mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas, bahasa anak muda saat ini hadir dengan beragam warna, mulai dari penggunaan serius dalam sastra hingga bahasa slang yang lebih cair. “Bahasa anak muda itu seperti mozaik, campur aduk, tidak selalu rapi, tetapi justru indah karena sarat kejutan,” ujarnya secara langsung.
Fenomena ini terlihat jelas dalam percakapan sehari-hari. Istilah seperti “gabut,” “gaskeun,” “healing,” dan “overthinking” menjadi kode rahasia yang menciptakan kedekatan antar generasi muda. Subarkah menjelaskan, “Itulah kekuatan slang: menciptakan kedekatan, sekaligus menjadi kode rahasia yang menandai siapa yang ‘insider’ dan siapa ‘outsider’.”
Perkembangan bahasa gaul terus melaju pesat, seiring dengan tren dan perubahan zaman. Generasi 90-an akrab dengan istilah “bokap-nyokap,” “ngetop,” dan “gaul abis.” Sementara itu, awal 2000-an memunculkan “alay,” “lebay,” dan “geje.” Kini, istilah-istilah tersebut bertransformasi menjadi “bestie,” “flexing,” “mager,” “insecure,” dan “vibes.”
Namun, anak muda tidak hanya terpaku pada bahasa gaul. Mereka tetap terhubung dengan sastra, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Sastra kini hadir di Instagram dalam bentuk puisi singkat berpadu ilustrasi, di Wattpad dalam cerita cinta remaja dengan campuran bahasa puitis dan slang, bahkan di TikTok dalam video pembacaan puisi berlatar musik sendu.
“Menariknya, anak muda tidak segan mengawinkan sastra dengan bahasa gaul,” kata Subarkah. Ia mencontohkan sebuah puisi viral yang berbunyi, “Aku mencintaimu bukan ala drama Korea, tapi kayak wifi gratis nyambung tanpa perlu ditanya password-nya.”
Lebih lanjut, Subarkah menambahkan bahwa fenomena bahasa anak muda juga memperlihatkan sisi performatif yang kuat. Kata-kata tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga memainkan peran. “Bahasa anak muda adalah pertunjukan. Setiap kata adalah dialog dalam teater kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Subarkah juga menuturkan bahwa kekhawatiran terhadap bahasa gaul bukanlah hal baru. Dulu, kata “gue” dan “elo” dianggap kasar, namun kini lazim digunakan dalam sinetron, film, bahkan iklan. “Bahasa selalu berubah, dan perubahan itu adalah tanda kehidupan. Bahasa yang kaku, justru tanda bahasa yang mati,” pungkasnya.







