Padang – PSP Padang mengawali perjuangannya di Putaran Nasional Liga 4 2025/2026 Grup H dengan hasil pahit. Tim asal Sumatera Barat itu kalah 0-1 dari tuan rumah Mataram Utama FC dalam laga yang diwarnai penalti menit akhir dan protes keras dari kubu PSP.
Pertandingan perdana di Stadion Mandala Krida, Sabtu (30/5/2026) sore, sejatinya berlangsung ketat sejak awal. PSP Padang mampu menjaga disiplin permainan, tetapi keputusan wasit Umar asal Surakarta pada menit ke-84 mengubah jalannya laga setelah ia menunjuk titik putih untuk Mataram Utama FC.
Harry Kusuma Silaban yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna. Gol penalti itu memastikan tim tuan rumah mengamankan tiga poin pada partai pembuka Grup H.
Sejak kick-off pukul 15.30 WIB, kedua tim tampil terbuka dan berintensitas tinggi. PSP Padang membangun serangan lewat Agung Wijaksono dan Lugas Satrya Pratama di lini tengah untuk menyuplai bola kepada Ariswar Hanif, Harun La Ode, dan Gibran Tito Kurniawan di lini depan.
Beberapa peluang sempat tercipta melalui umpan terobosan. Namun, rapatnya pertahanan Mataram Utama FC membuat serangan PSP kerap terhenti dan hanya berujung sepak pojok.
Mataram Utama FC juga tidak hanya bertahan. Mereka beberapa kali mengancam lewat serangan dari sisi sayap, sementara Bima Prahara dan Rizza Fadillah Hafruddin menjaga pertahanan PSP tetap aman hingga babak pertama berakhir tanpa gol.
Memasuki paruh kedua, tekanan tuan rumah meningkat. Kiper PSP Padang, Rafiq Effendi, harus beberapa kali membuat penyelamatan penting untuk menahan gempuran lawan.
Pelatih PSP Padang, Joni Efendi, lalu melakukan perubahan pada menit ke-54. Ia memasukkan Kaka Muhammad Seva, Feruzen Maulana, dan Syarif Hidayatullah untuk menggantikan Vendra Aprilianda, Lugas Satrya Pratama, dan Ariswar Hanif.
Pergantian itu sempat membuat permainan PSP lebih hidup. Peluang terbaik lahir dari kerja sama Feruzen Maulana dan Luthfi Al Anshorri yang dituntaskan dengan sepakan kaki kiri La Ode Muhammad Harun. Sayangnya, bola melambung di atas mistar.
Tak lama kemudian, Feruzen kembali menguji kiper lawan dengan tembakan keras. Namun, sepakan itu masih melebar dari sasaran.
Ketegangan mulai meningkat pada menit ke-75. Sejumlah keputusan wasit memicu keberatan dari kubu PSP Padang, termasuk dugaan pembiaran terhadap pelanggaran keras yang terjadi di lapangan.
Puncaknya terjadi pada menit ke-84. Umar menunjuk titik putih setelah menilai tekel Bima Prahara di kotak penalti sebagai pelanggaran. Para pemain PSP langsung memprotes keputusan itu, tetapi wasit tetap bergeming. Harry Kusuma Silaban kemudian mengonversi penalti menjadi gol dan membawa Mataram Utama FC unggul 1-0.
Gol tersebut membuat ritme permainan PSP Padang terganggu. Sejumlah insiden kecil ikut mewarnai laga hingga pertandingan dihentikan lagi pada menit ke-90 setelah Kaka Muhammad Seva mengalami benturan keras dan tak sadarkan diri.
Pemain itu kemudian ditandu keluar lapangan dan dibawa ke rumah sakit. Posisinya digantikan Rama Fazako Aristik. Hingga laga usai, skor 1-0 untuk Mataram Utama FC tetap bertahan.
Usai pertandingan, Joni Efendi menyampaikan kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit. Ia menilai penalti yang diberikan kepada lawan tidak seharusnya terjadi karena tekel anak asuhnya dianggap mengenai bola lebih dulu.
“Kalau dilihat dari tayangan ulang, tekel itu bersih tanpa menyentuh kaki lawan. Bola sudah dalam penguasaan, tapi tetap dianggap pelanggaran,” kata Joni.
Meski kecewa, ia tetap memuji kerja keras para pemainnya yang tampil disiplin sepanjang laga. Namun, menurut dia, hasil akhir justru dipengaruhi faktor di luar permainan.
“Kami main aman sepanjang laga dan mampu mengimbangi mereka. Tapi di menit akhir, begitu mereka masuk kotak penalti langsung diberi penalti. Kuat dugaan ada faktor non-teknis yang memengaruhi jalannya pertandingan ini,” ujarnya.
Dengan hasil ini, PSP Padang harus segera berbenah jika ingin meraih poin penuh pada laga berikutnya di Grup H.







