Padang – Filosofi hidup tumbuhan benalu, yang sering dianggap sebagai parasit, ternyata menyimpan pesan moral mendalam bagi manusia untuk tidak menjadi beban atau sumber kesengsaraan bagi orang lain. Pesan ini mengajak masyarakat untuk menghindari perilaku merugikan seperti benalu.
Guru SMA Negeri 1 Ranah Pesisir, Yori Leo Saputra, menjelaskan bahwa benalu, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai tumbuhan yang menumpang dan mengisap makanan dari tanaman lain, menjadi simbol perilaku yang harus dihindari. “Sifat benalu itu merugikan. Di mana pun dia hidup, kehadirannya selalu membawa kerugian,” ujarnya, baru-baru ini.
Yori mencontohkan, benalu yang tumbuh di pohon jengkol atau petai dapat menyebabkan kematian pohon tersebut. Analogi ini, menurutnya, relevan dengan perilaku manusia yang suka menganiaya atau menyakiti orang lain. “Orang yang berperilaku seperti benalu hanya membawa kesusahan, bahkan penderitaan yang mendalam,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yori mengutip pepatah Minangkabau yang mengajarkan untuk belajar dari alam. Menurutnya, alam memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dan memberikan manfaat bagi sesama. “Kedatangan kita dalam masyarakat seharusnya membawa kebaikan, bukan malah menjadi malapetaka. Jangan sampai kita seperti benalu, yang menjadi penyebab kesengsaraan,” imbuhnya.
Dalam ajaran Islam, perilaku menyakiti atau menganiaya orang lain disebut zalim dan merupakan dosa besar. Yori mengajak masyarakat untuk menghindari sifat benalu agar tidak menjadi sumber kesengsaraan bagi diri sendiri maupun orang lain. “Mari kita hindari sifat benalu ini supaya kita tidak menjadi sumber kesengsaraan bagi diri kita dan hidup orang lain,” pungkasnya.







