Padang – Sumatera Barat masih menghadapi tekanan ekonomi pada 2025 setelah laju pertumbuhan daerah itu melambat menjadi 3,37 persen. Angka tersebut turun dari 4,36 persen pada 2024 dan belum melampaui capaian nasional.
Kondisi itu kian berat setelah banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah. Bencana tersebut merusak infrastruktur, terutama jalan, sehingga menghambat distribusi barang dan mengganggu aktivitas pasar di berbagai daerah.
Dampaknya mulai dirasakan warga. Para pedagang terlambat menerima pasokan barang, sedangkan petani kesulitan membawa hasil panen ke pasar.
Di tengah situasi tersebut, percepatan pembangunan Jalan Tol Sicincin-Bukittinggi dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat pemulihan ekonomi Sumatera Barat. Kehadiran tol itu diharapkan bisa membuka akses ekonomi yang lebih luas sekaligus melancarkan mobilitas barang dan masyarakat.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade ikut mengawal proyek itu dengan menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak, termasuk Kepala BP BUMN dan Direktur Utama PT Hutama Karya. Ia menegaskan pembangunan tol tersebut perlu dipercepat karena manfaatnya dinilai besar bagi daerah.
“Tol ini akan membuka akses ekonomi yang lebih luas, mempercepat mobilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dengan konektivitas yang membaik, distribusi barang diharapkan kembali lancar. Aktivitas ekonomi masyarakat pun diperkirakan ikut bergerak lebih cepat seiring pulihnya roda perdagangan di daerah itu.







