Pelestari Gencarkan Upaya Selamatkan Kesenian Tupai Janjang dari Kepunahan

mengenal-kesenian-tupai-janjang,-sastra-lisan-minangkabau-yang-terancam-punah
Mengenal Kesenian Tupai Janjang, Sastra Lisan Minangkabau yang Terancam Punah

Silungkang – Kesenian Tupai Janjang, tradisi bercerita (bakaba) khas Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, kini terancam punah meski memiliki makna besar dan pernah mendapat apresiasi hingga tingkat internasional.

Maestro Palembayan Amril Sutan Caniago mengatakan kelangkaan penampil dan menurunnya minat generasi muda menjadi penyebab utama merosotnya eksistensi pertunjukan itu. “Kelangkaan penampil dan minat menjadi penyebab utama,” kata Amril.

Bacaan Lainnya

Amril menjelaskan alur kisah Tupai Janjang yang mengisahkan Puti Silinduang Bulan dan Datuk Bandaro yang tinggal di Kampung Pakudoran, sebagaimana tercatat Dinas Kebudayaan Sumbar. Menurut Amril, pasangan yang sudah sepuluh tahun menikah itu belum dikaruniai anak. Suatu hari, saat menuju ladang kopi di Tabek Talao, mereka bertemu seekor tupai di Kayu Ampek. Amril menirukan dialog dalam cerita itu: “Datuak, apa nama binatang itu?” kata Puti Silinduang Bulan. Bujang Salamaik lalu menjawab, “Wahai Datuak Bandaro, binatang itu bernama tupai janjang, saya bermain setiap hari dan hal itu menyenangkan.” Mendengar itu, Puti berkata kepada suaminya, “Datuak Bandaro, kalau kita mendapatkan anak seperti tupai janjang, betapa senangnya hati kita.” “Niat kita sama, jika seperti itu marilah kita pulang dan menuju musala Inyiak,” kata Amril menirukan ucapan Datuk Bandaro.

Dinas Kebudayaan Sumbar menyebutkan Tupai Janjang berkembang dari kebiasaan orang tua mendongeng kepada anak cucu sebagai media pendidikan moral dan sempat menjadi bagian dari pertunjukan Randai pada masa lalu; perkembangan tersebut juga dicatat peneliti Gayatri (dalam Efendi, 2011:103).

Kini Tupai Janjang tampil sebagai pertunjukan mandiri dengan beberapa ciri khas: dibawakan oleh penutur tunggal yang memerankan semua tokoh, penggunaan gerakan menyerupai silat Minangkabau untuk menggambarkan tokoh, dendang atau nyanyian khas sebagai pengantar suasana, serta pewarisan cerita sebagai sastra lisan tanpa naskah tertulis.

Selain berfungsi sebagai hiburan dalam acara adat, Tupai Janjang berperan sebagai sarana pendidikan moral dan media pewarisan budaya bagi masyarakat setempat. Namun Amril dan Dinas Kebudayaan mengingatkan bahwa tanpa upaya pelestarian—melalui pembinaan penutur, dokumentasi, dan pengenalan kepada generasi muda—teater tutur ini berisiko lenyap dari peredaran budaya Minangkabau.

Untuk menjaga kelangsungan Tupai Janjang, Amril menekankan perlunya keterlibatan komunitas lokal dan dukungan lembaga budaya. “Perlunya keterlibatan komunitas lokal dan dukungan lembaga budaya agar seni bertutur ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang,” kata Amril.

Pos terkait