Inflasi Juni Sumbar Melandai Jadi 0,50 Persen

disdag-padang-pantau-fluktuasi-harga-cabai-di-pasar
Disdag Padang Pantau Fluktuasi Harga Cabai di Pasar

Padang – Inflasi bulanan Sumatra Barat pada Juni 2026 melandai setelah sempat berada di 0,90 persen pada Mei. Badan terkait mencatat inflasi month-to-month (mtm) Sumbar turun menjadi 0,50 persen, menandakan tekanan harga mulai mereda di daerah itu.

Meski inflasi bulanan menurun, tekanan harga secara tahunan masih terasa. Sumbar mencatat inflasi year-on-year sebesar 4,70 persen, sementara inflasi kumulatif sejak awal tahun hingga Juni 2026 atau year-to-date (ytd) berada di 0,98 persen.

Baca Juga

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Barat, M. Abdul Majid Ikram, menilai kondisi tersebut masih sejalan dengan target pengendalian inflasi nasional. Ia mengatakan prospek inflasi 2026 tetap berada pada jalurnya.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi tekanan inflasi tahunan, prospek pencapaian inflasi 2026 sesuai sasaran 2,5% ± 1% masih terjaga,” ujar Abdul Majid Ikram dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).

Perlambatan inflasi Juni terutama ditopang meredanya harga kelompok bahan pangan bergejolak atau volatile food. Kelompok ini turun dari 2,47 persen pada Mei menjadi 0,56 persen pada Juni.

Sejumlah komoditas pangan bahkan memberi andil penurunan harga. Daging ayam ras turun 7,32 persen dengan andil minus 0,10 persen. Telur ayam ras ikut terkoreksi 4,33 persen dengan andil minus 0,03 persen.

Sayuran seperti sawi hijau, buncis, dan kangkung juga membantu menahan laju inflasi. Masing-masing komoditas memberi kontribusi minus 0,01 persen.

Namun, tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Sejumlah komoditas justru mendorong kenaikan inflasi, di antaranya bensin non-subsidi yang naik 3,28 persen dengan andil 0,14 persen, tarif angkutan udara yang meningkat 6,01 persen dengan andil 0,03 persen, serta LPG non-subsidi yang naik 3,20 persen.

Turunnya harga ayam dan telur di pasar dipicu melimpahnya pasokan anak ayam atau Day Old Chick (DOC) secara nasional. Kelebihan pasokan itu membuat harga di tingkat konsumen ikut turun.

Di sisi lain, kelompok transportasi dan energi masih memberi tekanan. Kenaikan tarif pesawat terjadi saat libur sekolah, seiring mahalnya avtur. Penyesuaian harga BBM dan LPG non-subsidi juga ikut menambah dorongan inflasi di tengah gejolak harga energi global.

Pergerakan harga di 19 kabupaten dan kota di Sumbar juga berlangsung tidak seragam. Kota Bukittinggi mencatat inflasi terendah, yakni 0,35 persen mtm, disusul Kota Padang sebesar 0,36 persen mtm.

Keduanya masih mampu menjaga stabilitas harga pangan meski terdampak kenaikan bensin. Sebaliknya, Kabupaten Pasaman Barat menjadi daerah dengan inflasi tertinggi pada Juni 2026 sebesar 1,01 persen mtm.

Kabupaten Dharmasraya menyusul dengan inflasi 0,61 persen mtm. Di dua daerah itu, kenaikan harga bensin, cabai merah, dan sayuran hortikultura akibat gangguan cuaca menjadi pemicu utama.

Jika dilihat secara tahunan, Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi di Sumbar dengan 5,91 persen. Pasaman Barat berada di bawahnya dengan 5,90 persen, lalu Bukittinggi 4,52 persen dan Padang 4,19 persen.

Untuk menahan gejolak harga ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumbar menyiapkan empat langkah utama. Langkah itu meliputi percepatan rekonstruksi pascabencana agar distribusi pangan lancar, operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah dengan prinsip tepat sasaran, tepat harga, dan tepat kuantitas, kerja sama antar daerah untuk menyeimbangkan pasokan, serta penguatan urban farming melalui kelompok tani cabai dan bawang merah.

Bank Indonesia juga meminta Sumbar tetap mewaspadai risiko eksternal. Cuaca ekstrem El-Nino yang dapat mengganggu pasokan pangan, tingginya harga energi dunia, kenaikan biaya logistik, hingga potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu imported inflation masih menjadi ancaman hingga akhir tahun ini.

Rekomendasi