Prof Quraish Shihab Ajak Masyarakat Mengelola Amarah Secara Efektif

begini-seni-mengelola-marah-menurut-prof-quraish-shihab
Begini Seni Mengelola Marah Menurut Prof Quraish Shihab

Jakarta – Prof. Muhammad Quraish Shihab menekankan agar setiap individu mengendalikan kemarahan agar tidak berujung pada tindakan destruktif, baik di ruang publik maupun di media sosial, dalam pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk “Marah dan Batasannya” yang disiarkan di kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an dan dilaporkan NU Online, Jumat (27/2/2026).

Menurut Prof. Quraish, Islam tidak melarang rasa marah secara total; kemarahan kadang dapat dibenarkan, misalnya ketika menghadapi kezaliman atau pelanggaran nilai agama. Namun ia menegaskan pengendalian emosi harus ketat untuk mencegah kerusakan moral dan sosial.

Bacaan Lainnya

“Marah boleh. Tetapi kalau bisa, jangan sampai kemarahan itu terlihat di wajah. Kalau tidak bisa, jangan sampai disertai dengan ucapan. Kalau harus berucap, jangan sampai ucapan itu kasar dan membekas terlalu dalam,” ujar Prof. Quraish.

Ia mengingatkan adanya hirarki pengendalian diri yang kerap diabaikan, sehingga kemarahan cepat melompat dari emosi batin ke kata-kata kasar atau tindakan fisik. “Banyak individu yang saat merasa marah, langsung melompat pada tahap verbal atau mengeluarkan kata-kata kasar bahkan kekerasan fisik. Jangan sampai tangan bergerak. Kalau harus bergerak, jangan sampai mencederai,” tegasnya.

Prof. Quraish juga mengkritik pola asuh yang mengedepankan hukuman emosional, menilai dalih ‘memberi pelajaran’ kerap menjadi pelampiasan dendam pribadi. “Kalau menghukum itu karena kita marah, kita ingin membuat dia jera dengan menyiksa. Sementara kalau mendidik, kita melakukannya karena ingin dia mendapat pelajaran dan manfaat kebaikan,” jelasnya.

Sebagai langkah praktis menahan amarah, ia mengajak masyarakat meneladani sifat halim dan mencontoh perilaku para nabi, seperti membaca ta’awudz, berwudhu, atau berpindah posisi saat marah. “Mengendalikan amarah adalah kewajiban moral. Kalau ingin marah, ingat-ingat kalimat, jangan marah, maka bagimu surga, nanti akan reda perlahan,” pungkas Prof. Muhammad Quraish Shihab.

Pos terkait